11.16.2013

Challenging Life Versi Bapak TransJogja




Saya enggak tau nama si Bapak siapa. Memang enggak sempat nanya juga. Kita cuma ngobrol sebentar tentang kerjaan. Tapi pengalaman ngobrol dengan si Bapak teringat terus sampai sekarang.

Malam itu sehabis belanja dari Malioboro saya naik TransJogja buat balik ke hotel. Waktu itu sih alasannya karena lebih murah naik TransJogja dari pada taksi atau becak, lagi males nawar – nawar harga sama bapak tukang becak dan pingin sekalian muter – muter Jogja. Karena dari Malioboro ke halte depan hotel rutenya rada muter. Jadi bisa sekalian “keliling” Jogja

Ternyata Jogja sepinya lebih cepat dari yang saya duga. Di Malioboro memang cenderung rame terus. Tapi waktu naik Transjogja penumpangnya enggak banyak. Apalagi saya termasuk yang paling terakhir turunnya karena halte yang saya tuju memang jadi jauh karena rada muter. Sama kaya di TransJakarta, di TransJogja juga ada petugas yang berdiri di dekat pintu. Kerjaannya juga sama persis seperti mas – mas dan mba – mba di TransJakarta. Cuma petugas di TransJakarta masih jauh lebih muda – muda. Ketika akhirnya bus sudah sangat sepi (cuma ada 2 atau tiga penumpang termasuk saya, lupa persisnya) si Bapak petugas akhirnya duduk di kursi dekat pintu. Tepat didepan saya.

Si Bapak memperhatikan kantong belanja yang saya bawa. Di kantong tersebut tertera merk batik yang baru saja saya beli. Si Bapak pun mulai mengajak ngobrol. “Habis belanja batik XYZ ya, Mba?”, si Bapak nyebutin merk batik yang baru saya beli. Saya pun mengiyakan sambil tersenyum. Selanjutnya si bapak mulai bercerita tentang perusahaan yang memproduksi batik XYZ tsb. Tentang seperti apa secara umum proses produksinya. Bukan hanya tentang batik XYZ, si Bapak juga sempat bercerita tentang batik – batik merk lain. Termasuk toko batik terkenal lainnya yang ada di Jogja. Waktu itu saya sedikit bingung. Apakah memang yang diceritakan si Bapak merupakan pengetahuan umum bagi orang Jogja atau memang si Bapak yang punya pengetahuan sangat luas. Sebenarnya sudah mau nanya aja kenapa si Bapak bisa tahu banyak begitu. Tapi saya urungkan dan memilih untuk manggut – manggut saja sambil berkali – kali ngomong: “Ooo gitu ya Pak” :)

Akhirnya si Bapak nanya ke saya. Ngapain ke Jogja dan kenapa sendirian aja. Saya pun ngejelasin kalau saya ke Jogja lagi tugas kantor. Lagi ngaudit. Waktu itu memang saya masih kerja jadi auditor. Sendirian karena yang lain sudah pada belanja dari pagi. Saya milih belanja sendirian aja waktu udah sorean.

Ketika tahu bahwa saya auditor si Bapak pun mulai bercerita lagi. Ternyata si Bapak dulu juga seorang auditor. Pekerjaannya sih sebenarnya perpaduan audit dan quality assurance gitu. Dan dulu ternyata si Bapak bekerja di batik XYZ! Sedikit info, batik XYZ ini sudah sangat tekenal se Indonesia Raya. Saya juga belanja batik ini karena buat oleh – oleh aja ke orang tua. Kalau buat pakai sendiri mah emoh! Mahal cing!

Si Bapak pun akhirnya bercerita lebih banyak tentang pekerjaannya dulu. Bagaimana dia bekerja di XYZ dan apa saja yang dikerjakan. Tidak ada masalah sebenarnya waktu dulu si Bapak bekerja di XYZ. Semua bisa dibilang baik – baik saja. Tapi ternyata pada satu titik si Bapak tergoda untuk menantang hidup :) Kepingin mencoba sesuatu yang sepertinya akan lebih baik dan menjanjikan, yaitu pindah dan mengadu nasib di Jakarta.

Singkat cerita akhirnya si Bapak memutuskan berhenti dari batik XYZ dan bekerja di Jakarta. Istri dan anaknya ditinggal di Jogja. Si Bapak mengadu nasib sendirian di Jakarta. “Tapi saya enggak bisa bertahan terlalu lama”. Begitu kata si Bapak. “Saya enggak mampu bersaing sama yang muda – muda. Saya kalah pintar dan kalah bersaing sama mereka”. Dan si Bapak pun akhirnya kembali ke Jogja.

Kembali ke Jogja si Bapak mencari pekerjaan baru. Akhirnya, dia bekerja sebagai petugas TransJogja. Waktu saya tanya kenapa enggak balik ke perusahaan XYZ aja jadi auditor? Si Bapak cuma menjawab, “Enggak lah. Engga enak waktu itu udah minta berhenti. Sekarang yah saya begini. Tapi jadi bisa dekat lagi dengan anak dan istri”.

Saya diam. Agak bingung mau ngomong apa. Akhirnya saya cuma bisa menimpali “Iya Pak, lebih enak kalau bisa dekat ama keluarga lagi”.

Tidak lama sesudah itu bus pun sampai di Halte yang saya tuju. Saya berpamitan ke si Bapak. Dia pun tersenyum sambil berkata, “Sukses ya Mba”.

Selama di hotel saya keingat si Bapak terus. Saya engga tahu berapa gajinya seorang internal auditor atau quality assurance atau apalah di batik XYZ. Apakah jauh lebih besar dari petugas TransJogja atau sebenanarnya sama – sama aja (who knows??). Tapi yang membekas terus di ingatan saya adalah tentang keputusan si Bapak. Di saat sudah punya istri dan anak masih nekat melawan arus yang selama ini sudah akrab dijalani. Masih tetap punya mimpi dan mau perjuangin. Walaupun endingnya ternyata enggak seperti yang diharapkan.

Beberapa hari belakangn ini saya keingat lagi sama si Bapak. Dari yang saya rasakan sekarang semakin bertambahnya umur, keberanian buat menantang arus yang sudah biasa kita jalani semakin berkurang. Ada banyak alasan yang dipakai untuk tetap mengikuti arus. Mulai dari keluarga, istilah “kesempatan yang sekarang belum tentu datang lagi”, sampai sudah terlalu nyaman. Kalau diumpamain udah enak berenang searah arus. Enggak perlu banyak effort dibandingin berenang melawan arus. Kata orang – orang sih silahkan aja kalau mau mencoba melawan arus, asal jangan konyol. Tapi defenisi konyol sebenarnya apa saya juga enggak tau. Tapi apakah salah juga kalau tetap saja mengikuti arus? Ya enggak juga kayanya selama enggak nyakitin siapa – siapa.

Entah lah. Saya enggak tau perasaan si Bapak petugas Transjogja itu yang sebenanrya sekarang. Saya juga berkali – kali mencoba berenang melawan arus. Bahkan dengan kemampuan berenang yang sangat pas – pasan atau malah cenderung kurang. Harus pakai pelampung. Yang dalam hidup bisa diartikan modal doa atau semangat aja. Ketika akhirnya saya kembali berenang mengikuti arus yang ada, saya memang jadi lebih tertinggal dibanding tidak pernah mencoba berenang melawan arus sebelumnya. Tapi yang berbeda, sekarang bisa berenang dengan jauh lebih ikhlas dan sabar. Sambil mempersiapkan diri untuk sedikit menyimpang dari arus yang ada. Karena jika berenang terus menerus mengikuti arus yang sama saya tahu, di satu titik nanti saya pasti akan menyesal karena tidak pernah menyimpang.

Buat Si Bapak yang saya tidak tahu namanya, semoga Bapak sukses terus dan berbahagia menjalani arus yang dipilih sekarang. Apapun itu. Seperti yang pernah Bapak bilang ke saya juga, “Sukses terus ya Pak!” :) :)

10.05.2013

To Travel NOT To Escape


It was summer holiday and my arrival was the same day for the market day, means Delft was quite crowded when I arrived. As Delft was the first city I spend quite a lot of time with, I just can’t avoid while that “let’s have a little contemplation” thought came across my mind. Crap!! I was so busy with some special moments indeed. First time I’m having 13 hours flight, first time I meet my nephew (and also my brother and his wife after these 2 years). Visiting this continent has become my bucket list since I was a kid. When I finally made it, it just feels not so real. And this city just make it perfect with the church’s bell ringing every thirty minutes. Owhhh. That happy feeling was combined with the urge to answer few questions. Just two questions actually but ohww I was totally crapply overloaded (yeah I know crapply is not an English word; p)

Preparing this trip actually kind of drained my energy. Most of bcoz I was too paranoid and not worked on it in most efficient way: D The visa was the most exhausted one to prepare. I really manage the “appearance” of my bank account (yes, I was too paranoid), prepare all documents in a perfect way (I several time changed the wording of the invitation letter from my brother) not to mention also the weekends I spent to prepare the itinerary and “how to get there” things. But what can I say I still love it. Even all of those stuff really drained my energy I just love it.

Spending quite a lot of time almost every day eating my favorite 50 cents ice cream while watching ducks swimming or people passing by (there are a lot of ducks in Delft “rule” the canal; p) I kind of disturbed with those two questions. I kind of ignored them. I really don’t want to live that “too much thinking” way of life anymore. This past one year I decided to live my life in a simple decent way. Not in hurry preparing the most important step to take. I’ve been so tired in last few years finding a way to escape from my routines. And when finally I still cannot completely escape from it, I just decided to take a deep breath for a while. I need my time. But these questions seems like warned me that the time is up. Still I didn’t want to respond it. They haunted my first four days in Delft and I still become an ignorant person. I left Delft on the day fourth to explore another city with those questions still haunting. Deep down I heard my self softly sayin’ “If only I live the days as passionate as I prepare this trip”

Back home to Delft and spending the last ten days without my family at home gives much time to reminisce the last 11 days. These last few months I should deal with that LATE quarter life crisis bull*h*t thing that I was so hard covering it below the surface. But these last eleven days experience really helps me to see everything from the different view. Simple reminder to remind me that work is one of the essences of life. Whether you like it or not, that’s just how it supposed to be.  Many people I met remind me how colorful this life originally. That I may have thousand reason to criticize my self and using the “If...” word so many times but there are also millions of reason to see how colorful this life and the joy embedded with it. Because life has been colorful from the beginning. It may offer not only my favorite color but also series of I don’t like. But the bad color just complete the color I love so everything won’t become dull. I look back the old times, I think I should be so thankful and proud for everything I've been through.   If I don't like something I should put all of my efforts to change it. But when finally I still can't change it, I just need to accept it. So, what's bothering me actually? Should be none. Yes, none.

For the first time while I’m traveling, I have that willingness to come back home soon. I want to celebrate what life brings. I want to make a peace with my self. I want to celebrate those colors. All off them. Not only few of them. First time I made a decision for “I want to travel” NOT “I want to escape” :) :)

9.12.2013

ROME to BRUSSEL


Kota terakhir yang saya kunjungi di Italia adalah Roma. Setelah mengunjungi beberapa kota di Italia akhirnya saya mengambil kesimpulan asal dengan mengabaikan ilmu statistik bahwa di Italia itu semuanya ganteng - ganteng. Dengan catatan orangnya masih muda #sekian


Selama dua hari di Roma saya mengunjungi Colosseum, Trevi Fountain dan Vatican city. Dan saya jadi makin yakin kalau semua orang Eropa ngumpul di Itali kalau lagi summer holiday. Ramenya mulai ga wajar. Waktu mau masuk ke Collosseum ngantrinya bikin frustasi. Trevi Fountain rame desak – desakan. Dan yang paling parah waktu ngantri masuk Museum Vatikan. Ngantrinya sampai itungan jam dan di dalamnya juga desak – desakan. Saya yang tergolong mahluk liliput ini harus bersaing dengan keganasan oma – oma berbadan raksasa yang suka nyerobot jalan waktu menuju ke Sistine Chapel. It’s sad. Karena museum Vatikan menurut saya sangat bagus. Tapi secara mau gerak aja udah susah di dalam museumnya gimana mau nikmatin yah?

Saya juga ga sempat masuk St Peter's Basilica karena ga keburu. Antriannya udah terlalu panjang sementara sorenya saya sudah harus kabur ke airport buat lanjut ke Barcelona. Roma waktu itu suhunya mencapai 35 derajat celcius!! Bener – bener berasa kepanggang. Ahh pokoknya ENGGA AKAN PERNAH ke Europe lagi pas summer holiday!!! Kecuali kalau tiket murahnya emang di situ doang. Yeeeee. But despite all of that matters, I should admit Roma emang keren. Bangunan – bangunan tua yang megah menyatu dengan kotanya yang ramai dan terasa hidup. Dan meski harus ngerasain kepanggang dan desak – desakan waktu di Colosseum dan Vatikan, what I’ve seen benar – benar menambah kekaguman saya buat kota yang sangat menjaga kemegahan peninggalan masa lampau yang dimilikinya. Dan saya sangat bersyukur akhirnya bisa menginjakkan kaki ke Vatican City even ga berhasil ketemu Paus *ya iya lah menurut looo??*

Dari Roma kita lanjut ke Barcelona. Pengalaman pertama naik budget airlines di Eropa (kalau di Indo udah puas lahh yaa).  Pengalaman pertama juga ngerasain penumpangnya pada tepuk tangan dengan heboh waktu pesawat berhasil mendarat. Heee...

Waktu pertama bikin itinerary sebeanrnya saya sama sekali ga berniat masukin Spanyol. Tapi travelmate saya ternyata ngebet banget pingin nyobain curros di San Gines. Hehhehe. Lama – lama akhirnya saya ikut penasaran juga pingin ngerasain curros originated from 1894. Jadi buat itu doang ke Spanyol? Iyah itu doang. Hehehhe. Tapi biar ga rugi – rugi amat ya udah saya masukin Barcelona juga ke itinerary. Dan untung lah akhirnya Barcelona jadi dikunjungin. Karena ternyata saya sangat suka dengan Parc Guell. Sagrada Familia sebenarnya masuk ke itinerary juga. Tapi karena antriannya juga sangat tidak “bersahabat” akhirnya kita cuman liat dari luar aja. Sebenarnya antriannya panjang bisa rada dihindarin kalau udah beli tiket online sih. Karena antrian buat yang udah punya tiket online masih normal – normal aja. Solusi kedua sih ya jangan jalan – jalan pas summer. Hehehhe.

Dari Barcelona kita naik kereta ke Madrid. Waktu di kereta petugasnya sambil nyerocos dalam bahasa Spanyol ngider ngebagiin sesuatu yang saya ga tau apaan. Karena udah mulai kere maka jiwa skeptis berlebihan saya pun muncul. Kirain kaya di Indo, suka ada yang naik ke kereta atau bus ngasi barang yang sebenarnya dijual. Terus ntar dia ambilin lagi sambil minta duit. Karena ogah keluar duit lagi ya udah saya tolak aja pas mau dikasi. Dianya sih rada bingung waktu saya bilang “No”. tapi berhubung bahasa Inggrisnya si mas – mas juga terbatas jadi ya udah dia juga ga komen apa – apa lagi. Eh, belakangan saya baru tau ternyata yang dibagiin itu adalah earphone. Dan ternyata GRATIS. Emang fasilitas yang dikasi kalau naik Renfe (kalau di Indo kaya PT KAI). Manyun dah!!

Sampai Madrid udah hampir jam 12 malam. Doing nothing but sleeping. Besoknya pagi – pagi kita segera menuntaskan misi utama kita. Makan churros di San Gines!! Udah itu doang. Sisanya kita kita jalan – jalan keliling kota. Ngerasain belanja Prada di Madrid (padahal cuma beliin titipan temen) terus main – main ke Retiro park yang guedeeee itu. Sorenya naik budget airlines LAGI kita cabut ke Belgia. Tepatnya ke Charleroi. Dan LAGI penumpangnya pada tepuk tangan heboh (kali ini plus siul – siul) waktu peswatnya berhasil mendarat. Emang itu kebiasaan yaaahhhh??? *mulai bingung*

Terus ngapain di Belgia?? Tujuan utama ke LOUVAIN LA NEUVE!! Disana ada Musee Herge. Museum yang didedikasikan buat mengenang karya Herge si pengarang Tin Tin. Well, kalau buat saya Tin Tin itu sama kelasnya dengan Donal Bebek. Hehhehe. Tokoh kartun yang engga ada duanya. Jadi bisa main ke Musee Herge rasanya udah hepi terhepi hepi. Hehehhe. Di Musee Herge juga ada toko souvenir yang ngejual pernak pernik Tin Tin. Dan akhirnya saya pun semakin bangkrut.

Dari Musee Herge  baru deh kita lanjut ke Brussel. Fokus kita di Brussel sih cuma buat nyobain waffel dan belanja cokelat :D Sampai – sampai patung manekin piss yang terkenal itu kita cuekin ajah. Orang – orang pada sibuk ngantri foto kita cuman ngeliat sekilas sambil bilang “Oooo begini doang”. Iya karena ternyata cuman begitu doang patungnya. Hehhehe

Malamnya kita cabut naik kereta ke Delft. Tempat kita stay buat 10 hari lagi sebelum balik ke Jakarta. Delft si kota galau. Kota cantik yang tenang dan menyenangkan tapi entah kenapa bikin hati berasa galau. Hehehhehe.

Dan akhirnya kereta yang kami tumpangi mulai mendekati stasiun Delft Centraal. Menara Gereja mulai terlihat dari kejauhan. Ahhh.. saya jadi ingat belasan kota yang baru saya kunjungi. Dengan segala kecupuan dan kedodolan yang dilakukan selama perjalanan :D Saya tahu, sepertinya senyum ini tidak akan pernah bisa hilang setiap saya mengingat perjalanan yang baru saya lakukan :) Ahhh.. priceless!! :) :)

9.09.2013

Never Underestimate The Random Thought


CINQUE TERRE - MANAROLA
Belum pernah dengar sebelumnya?? Iya sama. Saya juga engga tau itu mahluk apaan sampai teman traveling kali ini iseng nunjukin sebuah foto dari internet. Fotonya rumah warna warni di tepi tebing dengan lautnya yang biru. Foto itu keinget terus sama saya sangkin sukanya. Tapi seperti halnya foto – foto bagus yang sering dilihat di internet, ya udah bagus aja. Ga ada tindak lanjut apa – apa selain kagum doang. Bagi saya waktu itu, bisa nyampai Eropa dan menginjakkan kaki ke tempat – tempat “standar” yang dikunjungi orang kalau pertama kali ke Europe aja udah syukur banget.

Engga lama sesudah itu seorang teman di facebook share page yang ada foto Manarola juga. Dengan angle yang sama! Akhirnya saya jadi mikir. Kalau bisa nyampai ke Europe sayang banget kalau ngunjungin tempat yang biasa – biasa aja. Iseng akhirnya saya browsing deh tentang tempat ini. Ternyata engga jauh – jauh amat dari Pisa. Akhirnya kali ini saya memutuskan untuk “menindaklanjuti” foto – foto yang saya kagumi. Okeh! Saya akan save artikel - artikel tentang bagaimana caranya ke Manarola dari Pisa :D Sayangnya saya ngesave-nya di laptop dan lupa pindahin ke HP. Sementara laptop saya tinggal di Delft alias ga dibawa muter - muter. Jadi akhirnya pagi - pagi sebelum berangkat ke stasiun kereta, kita nebeng wifi gratis di penginapan buat browsing - browsing gimana caranya ke Manarola :D :D

Sedikit info, Cinque Terre itu artinya five lands. Jadi cinque terre itu sebenarnya terdiri dari lima kota kecil. Manarola adalah salah satunya.

Buat ke Manarola dari Pisa kita mesti ke La Spezia dulu. Di La Spezia sebenarnya ada tourist information yang khusus ngelayanin pengunjung yang mau ke Cinque Terre. Mereka juga nyediain paket buat ngunjungin kelima terre tsb dengan harga yang reasonable banget. Tapi berhubung waktu kita terbatas dan sepertinya dari semua yang paling bagus adalah Manarola, akhirnya kita putusin buat ngeteng ke Manarola aja.

Dari La Spezia kita lanjut naik kereta yang menuju Cinque Terre. Dari kelima terre tsb yang pertama bisa dicapai adalah Riomaggiore. Karena waktu yang terbatas kita memutuskan buat engga turun dari kereta dan lanjut ke terre berikutnya, Manarola! :)



Nyampai Manarola kita benar – benar ikut feeling doang. Di benak saya cuman keinget foto – foto yang sudah saya lihat sebelumnya. Pokoknya saya harus cari angle itu. Akhirnya kita ngikutin aja kemana orang – orang banyak jalan. Sapai akhirnya kita nyampai di tepi tebing. Rasanya mata adem banget akhirnya bisa lihat laut. Kita mutusin buat trekking ngikutin jalur yang ada di sisi tebing. Setelah menyusuri sisi tebing selama beberapa menit akhirnya saya menoleh ke belakang daaaannn... dihadapan saya muncul lah pemandangan itu :) Angle yang sama seperti yang sudah saya lihat di foto – foto sebelumya. Rumah warna – warni di sisi tebing dengan laut yang biru. Saya tersenyum berkali – kali. Rasanya senang sekali bisa mewujudkan ide random yang muncul waktu ngelihat foto ini di internet :) So, never underestimate your random thought :)

Anyway, waktu balik dari Manarola kita sempat jadi penumpang gelap bentar di kereta. Bentar doaaangg. Tapi karena belum pernah tetap aja grogi. Ceritanya waktu beli tiket kereta di mesin entah kenapa mesinnya mendadak rusak. Sementara ga ada loket yang bisa buat beli secara manual. Padahal kita butuh cepat nyampai di La Spezia buat ngejar kereta ke Pisa. Akhirnya kita nekat naik kereta meski ga punya tiketnya. Kita sengaja ga duduk dan milih berdiri dekat pintu biar bisa cepat – cepat kabur begitu nyampai Riomaggiore buat beli tiket. Untung aja Manarola ke Riomaggiore deket. Jadi cuman jantungan beberapa menit. Hehhehe.

lanjut ke postingan berikutnya :)